Total Tayangan Halaman

Rabu, 31 Desember 2014

2014...

Tahun 2014 ini menjadi salah satu tahun yang berkesan dalam hidup saya. Di tahun ini saya mengubah status dari yang semula "pelajar" menjadi "buruh kasar". Ada dua hal terindah di tahun ini. 

Pertama, secara resmi, saya menyandang S.E. di belakang nama saya, setelah berkutat dengan skripsi selama setahun (walau nilai skripsinya mengecewakan sih). 

Kedua, saya dapat memakai seragam ini tanpa perlu menunggu waktu menganggur yang cukup lama. Seminggu setelah sidang, saya dapat panggilan interview, padahal ijazah ataupun surat keterangan lulus belum ada. Untungnya, mbak-mbak HRD percaya saya sudah lulus. Hahahaha. Sebelum wisuda, saya sudah dapat bekerja.... Alhamdulillah!

Semoga 2015 punya kisah yang lebih indah lagi. Selamat Tahun Baru!!!!

Selasa, 09 Desember 2014

Kumpulan Nasihat

Dari salah satu karyawan cukup senior di kantor, "Kalo mau ikutan kursus, jalan-jalan kemana aja, atau kegiatan lain, sekarang saatnya. Mumpung masih muda, masih single. Nanti kalo udah berkeluarga, ga bisa tuh, bakalan ribet. Apalagi kalo udah punya buntut (baca: anak)." | Siap, Mas!!!


Salah satu supervisor, "Nggak berniat S2? S2 lah mumpung masih muda, belum nikah. Nanti kalo udah nikah, pikiran bakalan terpecah..." | Siap, Mbak!!!


Salah satu karyawan yang cukup senior lagi, "Buruan nikah, jangan kelamaan!!! Nggak usah pake pacaran segala... Ngapain pacaran segala? Bukan zamannya.." | Waduh, Mas....


Karyawan senior lainnya, "Lo doyan nyemil, tapi kok ga gemuk-gemuk sih? Tapi biasanya sih cowok bakal 'bengkak' setelah married... Lihat aja!" | Iya sih, Mas..


Kepala departemen saat di lift, "Lo kok kurus banget sih? Gemukin dikit lah badan lo, makan yang banyak. Tapi jangan gede-gede amat kayak gw... Jangan segede gw juga." | Susah nih, Mas...


Kadiv dalam suatu sesi serius, "Yang tahu cara menyenangkan diri kita, ya cuma diri kita. Cari kegiatan-kegiatan yang dapat menyenangkan diri kita untuk menghindari ke-boring-an kerja accounting/billing..." | Baik, Pak!!!
Masih banyak sih sebenarnya, tapi cuma ini yang terlintas di otak saya saat ini. Hehehehe...

Racauan Saya Menjelang Ujian Bahasa Belanda

Hal yang saya lakukan malam ini sepulang dari kantor adalah membuka buku kursus dan mencoba untuk mulai belajar. Maklum, Sabtu ini ada ujian kenaikan level. Hmmm, sempat melewatkan beberapa sesi membuat saya agak keteteran untuk mengejar materi ujian. Satu-satunya cara untuk mengejar ketertinggalan itu adalah mencicil belajar, bahkan membawa buku kursus dan kamus ke kantor. Perasaan kemarin baru keluar duit untuk bayar, kok sekarang sudah mau ujian lagi ya?

Memulai belajar bahasa Belanda ketika kuliah semester 7 lalu saat mata kuliah yang diambil sudah agak lowong. Saya berusaha mencari kesibukan. Mengapa kursus bahasa asing? Yaaaaa berhubung mata kuliah di jurusan selalu berhubungan dengan kuantitatif, sepertinya perlu penyegaran dengan bahasa. Sekarang, tak terasa sudah 1,5 tahun belajar bahasa ini. Kalau mengikuti kerangka pembelajaran bahasa standar Eropa, saya semestinya sudah berada di level B1. Tapi, kemampuan saya jauh di bawah itu. Hahahahaha. 

Tak terasa 1,5 tahun pula saya sering mendapat pertanyaan sindiran dari beberapa orang. “Ngapain belajar bahasa kumpeni?”, “Dulu pahlawan capek-capek ngusir tuh Belanda eh sekarang lo belajar bahasanya”, atau sejenisnya. Tanggapan saya selalu sama, senyum simpul ciri khas saya. Padahal, setahu saya, Bung Karno yang terkenal anti-Belanda juga fasih berbahasa Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan juga begitu. Mungkin mereka belajar sejarahnya setengah-setengah atau ketiduran di kelas saat ‘didongengkan’ oleh guru sejarah. 

Namun, setidaknya dengan kemampuan bahasa Belanda saya yang sangat terbatas ini, saya dapat bercakap-cakap dengan oma-oma dan opa-opa. Setidaknya ketika mengunjungi museum, saya mampu memahami beberapa teks bahasa Belanda, walau lebih banyak menerkanya sih. Tapi, yang lebih penting lagi, saya jauh lebih memahami bahasa Indonesia. Saya jadi lebih mengetahui akar kata bahasa Indonesia yang notabene banyak diserap dari bahasa Belanda, atau dari aspek grammatikanya, seperti mengapa jam 8.30 dibaca “jam setengah sembilan” dsb. 

Belajar bahasa asing bukan berarti kita menjadi orang lain. Belajar bahasa Rusia bukan berarti kita menjadi komunis, belajar bahasa Perancis bukan berarti kita sok-sokan romantis, belajar bahasa Inggris bukan berarti kita menjadi liberal. Sama halnya dengan belajar bahasa Belanda. Tidak berarti saya tidak menghargai pahlawan, tidak berarti saya tidak nasionalis, atau sebagainya. Semua tidak ada korelasinya. Itu hanya stereotip negatif yang terlanjur beredar di masyarakat. 

Satu yang saya ingat, tentang pepatah Arab yang mengatakan bahwa “Barangsiapa mempelajari bahasa suatu kaum, niscaya ia akan terbebas dari tipu daya kaum tersebut”. Ini yang saya pegang selama ini. Selamat belajar!

Jumat, 14 November 2014

Karyawan Bank vs Karyawan TV

"Enak nggak sih kerja di bank?" Pertanyaan itu sering muncul di benak saya mengingat banyaknya orang di sekeliling saya yang berlomba-lomba untuk bekerja di industri tersebut. Di samping itu, beberapa orang juga menyuruh saya untuk bekerja di sana. Salah satunya bapak kost sewaktu kuliah karena beliau pensiunan salah satu bank BUMN. Saya berusaha mencari jawaban itu, sampai pada suatu saat teman kantor saya (tax accounting staff) bercerita. Ketika ia menyetor pajak perusahaan di bank, sang karyawan bank "curhat" ke teman saya. Ia menyatakan keinginannya untuk lebih baik pindah menjadi karyawan TV saja. Alasannya karena di bank sering kena marah oleh atasannya. Sontak saya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita itu. Memangnya di TV ada jaminan tidak kena omel ya? Teman saya berusaha menghibur, bahwa semuanya sebanding dengan benefit yang didapatkan. Tapi katanya sama saja dengan karyawan TV. Ternyata, di balik pakaian necis dan berdasi yang semula saya pikir itu menyenangkan, keluhan tetap ada. Yaaaa, manusiawi. Tapi, itulah hidup. Semua tentang pilihan. Mau menjadi karyawan bank, karyawan TV, atau profesi lain itu pilihan. Semua ada plus dan minusnya. Plusnya jadi karyawan TV adalah jam masuk fleksibel (tapi jam pulangnya juga fleksibel tuh). Tidak seketat bank lah... Lalu, hemat budget wardrobe karena kita punya seragam. Tidak perlu pusing memikirkan baju apa yang akan dipakai besok. Minusnya? Banyak kayaknya. Hahahaha.  Tapiii semua balik lagi ke pribadi masing-masing. Kita yang lebih tahu diri kita cocoknya bekerja di lingkungan kerja yang seperti apa. Apapun pekerjaannya, yang terpenting, bekerjalah dengan hati karena akan terasa lebih berarti. Selamat menentukan karir! Maaf meracaunya kepanjangan. *Oiya, satu bulan setelah saya masuk, ada karyawan baru dan ternyata pindahan dari bank, sekarang jadi karyawan TV...* ""

Kamis, 16 Oktober 2014

IDEKU UNTUK PLN: Coretan tentang Ekonomi Ketenagalistrikan



Saat ini, kebutuhan listrik menjadi kebutuhan primer untuk masyarakat. Ketergantungan terhadap listrik dalam kehidupan sehari-hari tak terelakkan lagi, mengingat hampir semua barang kebutuhan sehari-hari mengandalkan listrik sebagai sumber energinya. Namun, sayangnya, fakta ini berbanding terbalik dengan rasio elektrifikasi di Indonesia yang sebesar 80,1 persen per September 2013 (dilansir dari laman Kementerian ESDM Republik Indonesia). Artinya, ada 20 persen rumah tangga masyarakat Indonesia yang tidak teraliri listrik. Di sisi lain, masih ada provinsi yang rasio elektrifikasinya di bawah 60%, yakni Papua dan Nusa Tenggara Timur, sementara sisanya sudah memiliki rasio di atas 60%.

Padahal, rasio elektrifikasi menjadi salah satu parameter atau indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan suatu negara. Semakin tinggi rasio elektrifikasi suatu negara, dapat dikatakan semakin maju negara tersebut. Namun, fakta di lapangan menunjukkan berbagai kendala, seperti kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan, lokasi sumber daya energi yang masih jauh dari pusat beban, dana pemerintah yang masih sangat terbatas, dan lain sebagainya.

Namun, saya tidak dapat menjabarkan semua permasalahan bidang ketenagalistrikan dalam tulisan blog yang sangat singkat ini. Saya tertarik melihat peran PLN sebagai penyedia listrik negara dan saya akan menggunakan kacamata ilmu ekonomi dalam tulisan ini.  Seperti yang sudah dijabarkan di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu sasaran yang ingin dicapai oleh PLN adalah rasio elektrifikasi yang 100 persen untuk Indonesia. Namun, salah satu permasalahan yang saya kemukakan di atas adalah dana pemerintah yang terbatas. Padahal, alasan PLN bertindak sebagai satu-satunya penyedia listrik adalah sifatnya yang natural monopoly. Artinya, butuh dana investasi yang sangat besar untuk bergerak di bidang ketenagalistrikan ini karena fixed cost-nya yang besar, seperti membangun pembangkit, jaringan, dan berbagai infrastruktur lainnya.

Lantas bagaimana menghadapi dilema antara memenuhi target rasio elektrifikasi 100 persen dan biaya yang ditanggung tidak kecil? Saya teringat dengan materi kuliah Ekonomi Energi yang saya ambil sewaktu kuliah kemarin. Ada berbagai solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya menarik investor untuk masuk ke dalam industri ini. Jangan salah kaprah dulu, bukan berarti ada liberalisasi di bidang ini. Bukan berarti dikompetisikan di pasar secara bebas. Listrik swasta yang dimaksud adalah Independent Power Producer (IPP) yang berada di sisi pembangkit atau hulu. Kemudian, listrik ini dijual ke PLN melalui Power Purchase Agreement (PPA). Mengapa sektor pembangkit yang dibuka ke swasta? Ini untuk menggantikan biaya pembangkit yang menggunakan BBM yang cukup mahal per KWH-nya. Jadi, ada upaya penghematan di sisi pembangkit, sehingga masih ada celah yang dapat digunakan untuk ekspansi PLN guna mengembangkan pembangkit lainnya. Pemerintah juga dapat mendukung dengan memberikan insentif untuk mendukung investasi, seperti pembebasan pajak, jaminan risiko dari pemerintah, bunga bank yang dijamin oleh pemerintah, dan lain sebagainya. Cara lainnya, terutama di kota-kota besar atau industri, adalah memanfaatkan captive power yang biasanya digunakan oleh industri-industri besar di kawasan industri. Kelebihan dari captive power atau yang tidak digunakan dapat dijual ke pemerintah (dalam hal ini PLN). Tentunya dengan harga yang telah disepakati dan bersifat keekonomian (harga yang wajar, namun tetap menguntungkan untuk penyedia). 

Namun, hal yang perlu diingat adalah apapun dan bagaimanapun caranya jangan sampai ada pihak yang dikorbankan, termasuk konsumen. Bagaimanapun juga listrik adalah salah satu industri yang dilindungi oleh amanat UUD 1945 karena menguasai hajat hidup orang banyak. Rasio elektrifikasi boleh saja 100 persen, biaya boleh saja diminimalisasi sedemikian rupa, ekspansi PLN boleh saja dilakukan, namun tetap saja kemampuan bayar (willingness to pay) konsumen atau masyarakat Indonesia tetap harus diperhatikan. Jangan sampai konsumen tersetrum melihat tagihan rekening listrik. 

Ditulis oleh Andre Sunanta (andranta.broadcaster@gmail.com) 

Referensi:
Bahan Kuliah Ekonomi Energi (Dosen Deddy S. Priatna). Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi FEUI.
Laman Kementerian ESDM Republik Indonesia.

Minggu, 17 Agustus 2014

#StandUpGalau Di Tukang Service Handphone...

#fiktif
Di tukang service handphone...

X: :Koh, mau service handphone dong. Handphone saya aneh, kayaknya rusak."

Tukang service: "Boleh. Aneh kenapa?"

X: "Aneh aja, setiap saya telepon MANTAN saya kok ga pernah bisa ya? Nada sambungnya masuk, tapi ga pernah diangkat. Padahal handphone saya baru lhooo.."

#StandUpGalau Anak Ilmu Ekonomi dan Jurnal Penyesuaian...

Walau saya anak IE, saya bisa kok buat jurnal penyesuaian untuk menyesuaikan depresiasi aset, utang, piutang, beban, dll.. Cuma satu yang tidak saya bisa, yaitu menyesuaikan diri ini menjadi seperti yang kau minta... ‪#‎ihiiiyyyyyyyyyyyy‬

#StandUpGalau

#StandUpGalau Di Kelas Makroekonomi 2....


Suatu saat di kelas Makroekonomi 2 ketika dosen menerangkan.....

Dosen: "Salah satu asumsi dalam model Mundel-Flemming adalah perekonomian terbuka kecil."

Salah satu mahasiswa yang duduk paling belakang: (dalam lamunannya) "Ga apa-apa deh kecil, yang penting sakinah, mawaddah, wa rahmah." ‪#‎salahfokus‬

*Eh, itu mahasiswa atau asdosnya ya?* ‪#‎StandUpGalau‬

#StandUpGalau

Anda, pembaca blog ini, biasanya disajikan dengan Stand Up Comedy yang tayang di dua stasiun TV swasta nasional itu. Karena saya rasa itu terlalu mainstream, maka saya meluncurkan rubrik #StandUpGalau dalam blog ini. Isinya tentang cerita atau kisah galau, baik diangkat kisah nyata maupun fiktif. Selamat menikmati yaaa... :)

Selasa, 24 Juni 2014

Tugas Asisten Dosen Semester Genap 2013/2014

PENGANTAR EKONOMI 2: Prof. Rustam Didong, S.E., M.A., Ph.D. dan Rus'an Nasrudin, S.E., MIDEc.

MIKROEKONOMI 1: Dr. Sartika Djamaluddin, S.E., M.Si.

INTERMEDIATE MICROECONOMICS: Isfandiary Djafaar, S.E., M.Soc.Sc.

MAKROEKONOMI 2: I Kadek Dian Sutrisna Artha, S.E., M.Sc., Ph.D.

Dimanakah Tempat Bahasa Daerah?



Di mata saya, orang yang menguasai banyak bahasa asing itu seksi. Namun, orang yang menguasai banyak bahasa daerah itu jauh memesona. Mengapa? Karena untuk sekarang ini, sangat sulit menemukan orang yang menguasai banyak bahasa daerah daripada menguasai banyak bahasa asing. Rata-rata mereka yang menyebut diri mereka sebagai polyglot – istilah untuk orang yang menguasai banyak bahasa – hanya menguasai banyak bahasa asing. Tidak bisa disalahkan juga sih, mengingat akses untuk belajar bahasa asing itu relatif lebih mudah daripada untuk mempelajari bahasa daerah. Tengok saja banyak lembaga kursus bahasa asing di sekitar kita. Penyelenggaranya bisa dari kampus, lembaga kursus, sampai pusat kebudayaan di bawah kedutaan besar. Belum lagi akses pembelajaran melalui internet yang sangat mudah ditemukan. 

Sekarang bandingkan dengan pembelajaran bahasa daerah. Adakah lembaga kursus yang membuka kelas bahasa daerah? Hmmm.. Namanya juga bisnis. Kalau tidak ada demand, mengapa harus ada supply? Begitu kata teori ekonomi. Yang lebih parah lagi adalah ada beberapa daerah yang menghapus mata pelajaran bahasa daerah untuk muatan lokalnya dan menggantinya dengan bahasa asing. Belum lagi, orang tua yang sudah sangat jarang mengajarkan anaknya bahasa daerah dan menyekolahkan anaknya ke sekolah bilingual bahkan trilingual. Terkadang, anak tersebut juga bingung membedakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dan bahasa nasionalnya dengan bahasa Inggris atau bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar di sekolahnya. Lantas, dimanakah tempat bahasa daerah?

Senin, 23 Juni 2014

Inikah Demokrasi?

Sebagai orang awam yang buta dengan pemahaman politik, terkadang saya bertanya, apakah ini yang disebut demokrasi? Saling hujat, saling cela, saling cemooh, saling fitnah, saling gosip, dsb... Jangan salahkan kami, kalau seandainya kami jenuh dengan kondisi ini dan akhirnya kami apatis serta memilih untuk golput pada pemilu nanti. Bukankah pemilu dan partai politik merupakan sarana pendidikan politik? Lalu kemanakah fungsi itu? Semua tak ubahnya seperti anak SMA yang primordial berlebihan dengan sekolahnya hingga berujung pada tawuran....

Selasa, 22 Oktober 2013

Daftar Dosen Semester 7

EKONOMI ENERGI: Kurtubi, S.E., M.Sc., M.Sp., Ph.D. dan Ir. Dedy Supriadi Priatna, M.Sc., Ph.D.

EKONOMI KEPENDUDUKAN: Diahhadi Setyonaluri, S.E., M.A., Ph.D. dan Elda Luciana Pardede, S.E., M.Sc.

EKONOMI KEUANGAN NEGARA: Riatu Mariatul Qibthiyyah, S.E., M.A., Ph.D.

SKRIPSI (PEMBIMBING): Dr. Ir. Widyono Soetjipto, M.Sc.



ASISTEN DOSEN:

MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS:
1. Ledi Trialdi, S.E., M.P.P.
2. Amalia Anis, S.E., M.E.
3. Ringoringo Halomoan Achmadi, S.E., M.Soc.Sc.

Daftar Dosen Semester 6

ADMINISTRASI PEMBANGUNAN: Prof. Prijono Tjiptoherijanto, S.E., M.A., Ph.D. dan Mandala Manurung, S.E., M.E.

ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK: Prof. Dr. Ine Minara S. Ruky, S.E., M.E. dan Niniek Listyani Gyat, S.E., M.Soc.Sc.

EKONOMETRIKA 2: Vid Adrison, S.E., M.A., Ph.D. dan Aufa Doarest, S.E., M.Phil., Ph.D.

EKONOMI POLITIK: Faisal Batubara Basri, S.E., M.A. dan Abdillah Ahsan, S.E., M.S.E.

EKONOMI REGIONAL: Paksi C. K. Walandouw, S.E., M.A. dan Nuzul Achjar, S.Si., M.Sc., Ph.D.

MAKROEKONOMI 2: Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D.

METODE PENELITIAN: Abdillah Ahsan, S.E., M.S.E.

SEMINAR EKONOMI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN: Dr. Ir. Widyono Soetjipto, M.Sc. dan Mubariq Ahmad, S.E., M.A., Ph.D.

Jumat, 19 Oktober 2012

Daftar Dosen Semester 5

Daftar Dosen Semester Pendek

AKUNTANSI BIAYA: Dyah Setyaningrum, S.E., Ak., M.S.M. dan Dwi Hartanti, S.E., M.Sc.



Daftar Dosen Semester 5

ANALISIS PROYEK PUBLIK: Suyanti Ismaryanto, S.E., M.Ec.Dev.

EKONOMI INDUSTRI LANJUTAN: Dr. Andi Fahmi Lubis, S.E., M.E. dan Prof. Dr. Ine Minara S. Ruky, S.E., M.E.

EKONOMI INTERNASIONAL LANJUTAN: Rizky Nauli Siregar, S.E., M.A., Marie Elka Pangestu, B.A., M.A., Ph.D., dan Yose Rizal Damuri, S.E., M.Ec.Dev., Ph.D.

EKONOMI LINGKUNGAN: Alin Halimatussadiah, S.E., M.E.

MIKROEKONOMI 2: Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D.

PEREKONOMIAN INDONESIA: Dr. Lana Soelistianingsih, S.E., M.A., Prof. Dr. M. Arsjad Anwar, S.E., M.B.A, Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, S.E., M.A., Ph.D., Dr. Maddaremmeng A. Panennungi, S.E., Surjadi, S.E., M.A., dan Fauziah Zen, S.T., M.P.P., Ph.D.

TEKNIK PENULISAN DAN PRESENTASI DALAM BAHASA INGGRIS: Djauhari J. Sulichah, S.S., M.Sc.

Jumat, 04 Mei 2012

UAS Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan


UJIAN AKHIR SEMESTER GASAL 2011/2012
Mata Kuliah   : Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Dosen              : Alin Halimatussadiah, S.E., M.E.

  1. Hutan. Jelaskan bagaimana dimensi biologi dari pertumbuhan pohon seperti yang telah dikembangkan oleh Douglas Fir dimasukkan/terlihat dalam model keputusan menebang (harvesting decision)! Dalam model tersebut, jelaskan pula faktor apa saja yang menentukan keputusan menebang! Kita mengetahui bahwa model tersebut mengasumsikan bahwa keputusan menebang dilakukan hanya untuk 1 periode/siklus pertumbuhan pohon. Jika model tersebut dikembangkan menjadi infinite planning horizon model, dimana diasumsikan siklus penebangan dan penanaman yang berlangsung hingga waktu yang tak terhingga, apa saja poin-poin analisis yang membedakannya dengan model 1 siklus pertumbuhan pohon?
  2. Ikan. Rezim property rights yang bersifat open access pada eksploitasi ikan di Indonesia menyebabkan keberlangsungan kehidupan ikan dan nelayan terancam. Jelaskan dengan perangkat grafis, mengapa open access menyebabkan stok ikan terancam dan pendapatan nelayan rendah! Menurut Anda, apa usaha yang dapat dilakukan untuk membuat kondisi perikanan di Indonesia lebih baik?
  3. Pollution Control. Alokasi pasar akan polusi tidak menjanjikan kondisi zero pollution. Bagaimana sebenarnya pasar mengalokasikan polusi ini? Dengan asumsi perusahaan akan selalu memaksimumkan profit, tunjukkan pada tingkat mana perusahaan akan berproduksi/berpolusi dan bagaimana pajak Pigouvian dapat mengoreksi tingkat tersebut menuju tingkat polusi yang optimal!
  4. Mobile-Source Air Pollution. Apa saja kebijakan penanganan polusi udara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor di negara maju yang Anda ketahui dan kebijakan seperti apa yang menurut Anda memungkinkan untuk diterapkan di Indonesia? Berikan alasannya!
  5.  Pembangunan Berkelanjutan.
            a. Apa yang dimaksud dengan pembangunan berkelanjutan?
            b. Apa yang dimaksud dengan Dutch Disease?
            c. Apa pendapat/prediksi Anda tentang kualitas kehidupan/kesejahteraan generasi mendatang?

UAS Ekonomi Pembangunan


UJIAN AKHIR SEMESTER GASAL 2011/2012
Mata Kuliah   : Ekonomi Pembangunan
Dosen              : Rusan Nasrudin, S.E., MIDEc


Question 1
Given constraints on modern sector growth, there is argument that the informal sector should be promoted as a major source of employment and income for the urban labor force.

  • Explain graphically using Harris-Todaro Model to the validity of the claim that states the role of informal sector as source of employment! Debate the pros and cons of promoting the informal sector!’
  • Explain why policies designed to reduce urban unemployment may not greatly reduce poverty in developing countries!
  • Explain some important policy measures that you would expect to reduce excessive rural-urban migration! Explain!


Question 2
Realizing the common characteristics of agriculture in developing economies, it is imperative to emphasize that a country’s development strategy must include plans for achieving agricultural progress and rural development.

  • Explain the common characteristics of agrarian system in the developing economies! Identify characteristics that are not advantageous for these countries!
  • What are the primary determinants of agricultural labor productivity?
  • Explain the concept, goals, and methods of integrated rural development!


Question 3
The role of the environment in economic development has received a tremendous amount of attention recently. This due to the environmental consequences associated with many economic decisions and development problems. In this context, discuss the following:

  • Provide a short definition of sustainable development!
  • Growth and environmental quality can be both complements and substitutes. Using simple microeconomic models, discuss the relationship between growth and the environment!
  • In the case of what developed countries can do to respond constructively to the environmental damage being done in developing countries, identify and briefly explain policy issues to poverty and environment!


Question 4
The central importance of international trade in economic development is on the relation between theoretical arguments and statistical evidence.

  • Using one of neoclassical model of international trade, explain the traditional arguments for the impact of trade upon development!
  • Analyzes the implications of the assumptions of the theory that are typically violated in less developed countries!
  • When and under what circumstances is intervention in international trade justified on market correction grounds? What preconditions would have to be met from the government side for there to be a reasonable likelihood of success?


Question 5
Examining international flow of financial resources to developing economies weights the pros and cons in the different forms.

  • Provide a concise statement on the relationship between multinational corporation investment and economic activity in developing countries with respect to: comparative advantage, the debt crisis, scale economies, and pattern of consumption!
  • Explain the motives of developed countries in providing foreign aid!
  • Why does multinational corporation investment not necessarily offer the advantage of domestic employment expansion?

Daftar Dosen Semester 4


EKONOMI INDUSTRI: Dr. Andi Fahmi Lubis, S.E., M.E.

EKONOMI INTERNASIONAL: Prof. Lepi Tanadjaja Tarmidi, S.E., M.B.A., Ph.D.

EKONOMI MONETER: Maman Karyaman Muchtar, S.E., M.Soc.Sc.

EKONOMI PERKOTAAN: Dr. Sonny Harry Budiutomo Harmadi, S.E., M.E.

EKONOMI PERTANIAN: Dr. Ir. Widyono Soetjipto, M.Sc. & Prof. Sulastri Surono, S.E., M.Sc., Ph.D.

EKONOMI SEKTOR PUBLIK: Dr. Sartika Djamaluddin, S.E., M.Si. & Riatu Mariatul Qibthiyyah, S.E., M.A., Ph.D.

MAKROEKONOMI 1: Arianto Arif Patunru, S.E., M.Sc., Ph.D.

Daftar Dosen Semester 3


EKONOMETRIKA 1: Vid Adrison, S.E., M.A., Ph.D.

EKONOMI PEMBANGUNAN: Rusan Nasrudin, S.E., MIDEc.

EKONOMI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN: Alin Halimatussadiah, S.E., M.E.

EKONOMI SUMBER DAYA MANUSIA DAN KETENAGAKERJAAN: Padang Wicaksono, S.E., M.Sc., Ph.D.

KOPERASI: Pius Nugraha, S.E., M.Sc.

PENGANTAR HUKUM BISNIS: Fahrul Ismaeni, S.E., M.H.

SISTEM EKONOMI:  Prof. Sri Edi Swasono, S.E., M.P.A., Ph.D. & Pius Nugraha, S.E., M.Sc.

Daftar Dosen Semester Pendek


MANAJEMEN KEUANGAN: Dr. Buddi Wibowo, S.E., M.M.

MIKROEKONOMI 1: Aufa Doarest, S.E., M.Phil., Ph.D.